Dalam buku mereka yang berjudul Human Ability,Spearman dan Wynn Jones mengemukakan adanya suatu konsepsi lama mengenai suatu kekuatan (power) yang dapat melengkapiakal fikiran manusia dengan gagasan abstrak yang universal,untuk dijadikan sumber tunggal pengetahuan sejati.Kekuatan demikian dalam bahasa Yunani disebut nous ,sedangkan penggunaan kekuatan termaksud disebut noesis .Kemudian kedua istilah tersebut dalam bahasa Latin dikenal sebagai intellectus dan intelligentia.Pada gilirannya,dalam bahasa Inggris masing-masing diterjemahkan sebagai intellect dan intelligence.Ternyata,transisi bahasa tersebut membawa pula perubahan makna.Intelligence,yang dalam bahasa Indonesia kita sebut inteligensi,semula berarti penggunaan kekuatan intelektual secara nyata,akan tetapi kemudian diartikan sebagai suatu kekuatan lain (Spearman & Wynn Jones, 1951).Beberapa ahli psikologi bahkan lebih suka memusatkan perhatian pada msalah perilaku inteligen(intelligent behavior).
Inteligensi dalam Definisi
Andrew Crider mengatakan bahwa inteligensi itu bagaikan listrik,gampang untuk diukur tapi hamper mustahil untuk didefinisikan (Crider, dkk., 1983).Kata-kata ini banyak benarnya.Hampir seabad yang lalu,sebagai contoh,James Mckeen Cattell,seorang pengikut Galton,mengembangkan suatu bentuk skala pengukuran inteligensi yang banyak mengukur kemammpuan fisik.Dengan pendekatan studi korelasional Clark L.Wissler (1901),yang juga seorang pengikut Galton menliti 21 macamtes psikofisik.Alfred Binet,seorang tokoh utama perintis pengukuran inteligensi yang hidup antara tahun 1657-1911,bersama Theodore Simon mendefinisikan inteligensi sebagai terdiri tas tiga komponen.Di tahun 1916 Lewis Madison Terman mendefinisikan intelegensi sebagai kemampuan seseorang untuk berfikir secara abstrak,sedangkan H.H Goddard pada tahun 1946 mendefinisikan inteligensi sebagai tingkat kemampuan pengalaman seseorang untuk menyelesaikan masalah-masalah yang langsung dihadapi dan untuk mengantisipasi masalah-masalah yang akan datang.
INTELLIGENCE QUOTIENT
Secara tradisonal,angka normative dari hasil tes inteligensi dinyatakan dalam bentuk rasio (quotient) dan dinamai intelligence quotient (IQ).Istilah intelligence quotient diperkenalkan untuk pertama kalinya pada tahun 1912 oleh seorang ahli psikolgi berkebangsaan Jerman bernama William Stern (Gould,1981).
Keterbatasan Rasio MA/CA
Gagasan pokok dalam perumusan rasio MA/CA adalah perbandingan relatif antara usia kronologis dengan usia mental yang telah ditentukan berdasar rata-rata skor pda kelompok usia tersebut.
Perumusan IQ-deviasi
Dengan adanya kelemahan penggunan rasio MA/CA akan tetapi dihitung berdasarkan norma kelompok (mean) dan dinyatakan dalam besarnya penyimpangan (deviasi standar) dari norma kelompok tersebut.
*Skor standar = m + s [(X-M)/sx].*
Distribusi IQ dan Klasifikasi Inteligensi
Dapat dimengerti mengapa kita tidak sering menjumpai orang-orang yang mempunyai IQ yang sangat rendah ataupun yang sangat tinggi.Mereka ini memang termasuk kedalam kategori individu berinteligensi tidak normal,yaitu mempunyai inteligensi di luar tingkat kewajaran.
Perkembangan Mental Kestabilan IQ
Metode untuk mempelajari perkembangan kemampuan mental sepanjang kehidupan,atau paling tidak sepanjang suatu periode kehidupan tertentu,adalah studi longitudinal dan studi cros sectional.Melalui studi longitudinal,pertumbuhan dan perubahan yang mungkin terjadi diikuti dan direkam dengan pencatatan-pencatatan hasil pengamatan pada subjek tertentu saja.
FAKTOR BAWAAN DAN
FAKTOR LINGKUNGAN
Kontroversi mengenai apakah inteligensi lebih ditentukan oleh faktor bawaan(genetically determined) ataukah oleh faktor lingkungan (learned) terus berlangsung.Hal ini membawa kita kepada konsep mengenai heritabilitas (heritability),yaitu konsep mengenai sejauh mana suatu sifat dapat diwariskan.
Determinasi Faktor Bawaan
Faktor bawaan,yang disebut juga faktor keturunan atau faktor herediter,adalah faktor-faktor yang menjadi penyebab mengapa ikan berenang,burung terbang,sapi berkaki empat,harimau makan daging,dan sebagainya.
Determinasi Faktor Lingkungan
Pengaruh lingkungan terhadap individu sebenarnya telah diawali sejak terjadinya pembuahan .Sejak pembuahan sampai saat kelahiran,lingkungan telah mempengaruhi calon bayi lewat ibunya.
Metode-metode Penelitian :
1.Hereditas Terkendali dan Lingkungan Bervariasi
Penelitian dengan menggunakan kembar identik merupakan contoh situasi dimana hereditas dikendalikan karena anak kembar identik berasal dari pembuahan ovum tunggal dan memiliki rangkaian gen yang identik (disebut juga kembar monozygotic atau kembar MZ).
2.Lingkungan Terkendali dan Hereditas Bervariasi
Untuk menempatkan manusia dalam suatu lingkungan yang benar-benar terkendali,dapat dikatakan mustahil untuk dilakukan.
3.Studi Kemiripan dalam Keluarga
Metoda ini mempelajari kemiripan yang terjadi antara-orangtua,antara anak dengan saudara sekandung,antar kembar fraternal..
Studi Sejarah Keluarga
Dengan mempelajari garis keturunan suatu keluarga,seorang peneliti seakan berada dalam situasi yang menyerupai eksperimen pembiakan selektif (selective breeding).Eysenck (1981) mengatakan bahwa tidaklah benar untuk menganggap hanya satu cara saja yang dapat dipergunakan dalam penelitian mengenai pengaruh faktor lingkungan dan faktor bawaan dikarenakan metode-metode tersebut bersifat saling melengkapi dari berbagai sudut pandang permasalahannya.
Temuan dn Argumentasi
Dalam studi keluarga Kalikak,ditemukan bahwa hanya 46 diantara 480 keturunan kalikak dari isteri yang lemah mental yang tumbuh normal sedangkan dari isteri Kalikak yang normal semua keturunannya juga tumbuh normal (Goddard,dalam mouly,1973).Dalam studi yang dilakukan Terman terhadap anak-anak gifted (superior),diantara setiap 15 orang subjeknya paling tidak terdapat satu yang berasal dari keluarga terkemuka.Kira-kira sepertiga dari jumlah individu yang superior dalam studi tersebut,yang proporsinya hanya 3% dari seluruh subjek penelitian Terman,ternyata berasal dari keluarga professional.Kasus-kasus anak superior di Indonesia yang diteliti oleh Wimbarti (1996) kesemuanya berasal dari keluarga terpelajar yaitu putera-puteri dosen di perguruan tinggi.Walaupun kasus tersebut belum merupakan representasi kelompok anak superior akan tetapi memberikan indikasi yang searah dangan keadaan subjek penelitian Terman di atas.
Para ahli psikologi di Amerika pada umumnya cenderung untuk lebih mementingkan peranan faktor lingkungan (lihat antara lain Kamin,1981) dikaranakan budaya Amerika yang sangat mengagungkan persamaan hak individual,termasuk persamaan hak untuk tumbuh dan berkembang yang hanya mungkin terjadi bila faktor keturunan tidak memberikan batasannya.
Kesimpulan umum
Apabila dicermati,tampaklah bahwa masalah peranan faktor bawaan dan faktor lingkungan dalam menentukan tingkat intelegensi tidak akan memperoleh penyelesaian.Berbagai studi yang dilakukan untuk mencari jawaban terhadap masalah ini tidaklah menyentuh inti permasalahannya akan tetapi lebih tertuju pada diskusi mengenai faktor manakah yang lebih berpengaruh terhadap isi tes inteligensi.Tes inteligensi yang isinya lebih peka terhadap pengaruh lingkungan (hasil belajar) akan membuahkan bukti peranan faktor lingkungan,sebaliknya isi tes yang tidak sensitif terhadap pengaruh lingkungan akan mendorong kepada kesimpulan dominasi faktor bawaan.Walaupun begitu,tetap dapat diambil kesimpulan yang bersifat umum dari hasil-hasil studi yang pernah dilakukan.Ada beberapa macam karakteristik yang lebih dipengaruhi oleh salah satu diantara faktor hereditas dan faktor keturunan.Faktor lingkungan tampak kurang berperanan dalam membentuk karakteristik fisik,lebih berperanan dalam pembentukan karakteristik-karakteristik kepribadian.Sebaliknya,faktor keturunan sangat berperanan dalam penentuan ciri-ciri fisik dan tingkat inteligensi manusia.
Jumat, 01 Januari 2010
Langganan:
Komentar (Atom)